Menutup November ’15: Finally

Di bulan ini setiap tahunnya, yang spesial adalah hari kelahiran saya. Seperti biasa, tidak ada perayaan khusus. Sudah 26 tahun atau baru 26 tahun? Tergantung dari perspektif mana melihatnya. Tapi intinya, makin tua, harus makin dewasa.

Sebelum hari lahir saya itu, tanggal 9 lalu memang dijadwalkan untuk pengumuman nilai akhir kelulusan program S2 saya. Saya lulus, alhamdulillah. Berhak menyandang gelar M.Sc. alias master of science. Yang tidak disangka, saya bukan sekadar lulus, tapi lulus dengan predikat “distinction”. Sejenis cum laude lah.

Gak sangka, karena hitung-hitungan kasar yang pernah saya lakukan sebelumnya memang diprediksi nilai saya gak akan lewat batas minimal buat distinction. Rupanya, dalam hitungan itu saya melupakan bobot kredit tiap mata kuliah. Belum lagi, nilai tesis S2 saya ternyata lumayan tinggi. Ditambah bobot tesis yang mencapai 60 kredit sendiri atau setara dengan sepertiga bagian dari seluruh kredit kuliah S2 saya, membuat rerata keseluruhan jadi sangat terkatrol. Akhirnya, distinction. (lebih…)

Menutup Oktober ’15: Coming Back

Serial “menutup” bulanan ini diusahakan konsisten saya tulis supaya blog ini gak kosong-kosong amat, terutama ketika saya lagi malas nulis di bulan itu. Ada kalanya, sebulan gak posting apa-apa walaupun sebenarnya banyak hal yang ingin diceritakan. Jadi, serial ini semacam rangkuman lah.

Kejadian yang khas di bulan ini adalah saya kembali ke Indonesia untuk selamanya. Leaving for good. Kembali karena tugas dan misi saya sudah selesai. Selamat tinggal, Inggris! Semoga suatu saat saya bisa kembali lagi ke sana.

Kembali ke Indonesianya sebenarnya tanggal 30 September. Tapi landing di Indonesianya pas tanggal 1 Oktober. Terhitung mulai saat itu, saya resmi tinggal di Indonesia lagi, setelah sebelumnya selama setahun tinggal di negeri orang, walaupun beberapa kali juga bolak-balik Inggris-Indonesia untuk berbagai kepentingan. (lebih…)

Menutup September ’15: The Last Call

Tanggal 9 September lalu adalah tenggat waktu terakhir pengumpulan tesis master saya. Boleh mengumpulkan setelah itu, tapi nilainya nanti dipotong setiap hari keterlambatan, hehe. Kecuali ada hal-hal yang dibenarkan oleh kampus dan dibuktikan dengan dokumen yang sah.

Sampai awal September, tesis saya masih acak-acakan. Tapi sekali lagi, saya seolah membuktikan bahwa “the power of deadline” itu benar adanya. Makin mepet, makin bisa dituntaskan. Ya iya lah, gak ada pilihan lain.

Dengan penuh rasa syukur yang mendalam, akhirnya saya submit juga tuh tesis yang ditulis siang malam, sampe begadangan segala. Usaha sudah, tinggal memohon sama Sang Empunya Ilmu biar nilainya maksimal sesuai kadar usaha saya. Tentu saja, semoga ilmunya juga bermanfaat kelak. (lebih…)

Menjemput Belahan Jiwa

Allah azza wa jalla rupanya memang menggariskan takdir yang unik untuk saya dan istri. Takdir yang mungkin lain dari pada yang lain. Lain dari pasangan “normal” lainnya. Bisa jadi, tidak banyak yang digariskan demikian. Takdir yang bisa menjadi cerita tersendiri bagi saya dan istri, dan juga keturunan kami kelak.

Tidak banyak pasangan yang setelah menikah lantas terpisah. Terpisah jarak dan waktu. Saya di sini, istri di sana. Saya baru selesai aktivitas dan mau tidur, istri sudah bangun tidur dan siap memulai aktivitas. Tapi itulah yang harus kami jalani paling tidak di 6 bulan pertama pernikahan kami.

Dua pekan setelah menikah, saya harus kembali ke negeri perantauan untuk menyelesaikan misi yang sedang saya emban. Sayangnya, sang istri tercinta tidak bisa segera mendampingi sang suami tersayang karena alasan yang cukup bisa diterima.
(lebih…)

Kecil yang Menjadi Besar

Sebelum menikah, saya pernah mendengar bahwa kehidupan rumah tangga itu agak berbeda dengan ketika masih bujangan. Hal-hal kecil kadang bisa menjadi besar. Masalah yang mungkin awalnya hanya satu titik di atas kertas putih, bisa berubah menjadi seperti tumpahan tinta. Uniknya, katanya sih, selalu saja ujung-ujungnya yang salah si laki-lakinya, hehe.

Berdasarkan pengalaman saya berumah tangga sejauh ini, penyataan di atas tidak sepenuhnya benar, tapi juga tidak sepenuhnya salah. Bisa dibilang, ada benarnya lah. Beberapa kali saya mengalami hal yang “dihipotesiskan” di atas. Jujur saja, awalnya saya merasa terganggu dan tidak nyaman. Tapi saya belajar hal besar dari situ.

Belajar apa? Bahwa kehidupan rumah tangga itu seperti orang berlayar. Ombak di lautan tidak sepenuhnya tenang dan nyaman untuk berlayar. Kadang ada badai, kadang ada angin kencang, kadang hujan lebat. Akan tetapi semuanya normal, sebagai bagian dari proses berlayar itu sendiri.
(lebih…)